//

Kamis, 07 Maret 2013

Contoh Cerpen


DI BALIK MAJUNYA ZAMAN
(karya:ikhsantiko aswianto)
Namaku Adit, aku tinggal di Cacaban, kota Magelang. Kebetulan aku baru 5 bulan di Magelang. Aku pindah dari Bandung ke Magelang karena mengikuti orangtuaku beralih tugas. Walaupun baru 5 bulan, aku sudah memiliki 2 sahabat, yaitu: Citra, Restu. Mereka berdua sangat baik padaku. Akan tetapi aku sedikit sulit berkomunikasi dengan mereka, karena mereka menggunakan bahasa jawa yang tidak begitu aku mengerti.
tugas-tugasanaksekolah.blogspot.com
Di Magelang mata pelajaran yang menurutku susah adalah bahasa jawa, karena di bandung tidak ada pelajaran bahasa jawa, aku hanya bisa bahasa sunda. Walaupun demikian, mereka telah mengajariku banyak hal, mulai dari bahasa Jawa yang tadinya aku tidak tau, walaupun sekarang aku Cuma tahu sedikit-sedikit
Kami bertiga sering bertukar ilmu, aku mengajari Restu dan Citra bahasa sunda, mereka mengajariku bahasa jawa. Di SMPN 7 Magelang, sekolah ku Magelang, aku juga sudah mulai punya banyak teman, dari kelasku (8E),maupun dari kelas 8 lainya dan dari kelas 7 dan ada juga kelas 9, tentunya Restu dan Citra yang memperkenalkan kepada ku. Di sekolah ini, pelajar yang aku suka adalah seni dan budaya, guruku bernapa Bu Ning. Bu Ning adalah salah satu guru favorit ku di SMPN 7 Magelang, dia sangat baik kepada murid-muridnya. Selain pandai mengajar, Bu Ning juga pandai menari, di usianya yang sudah hampir mencapai 50 tahun, ia memiliki satu sanggar seni budaya di daerah Menowo. Banyak sekolah-sekolah swasta yang meminta Bu Ning untuk datang dan mengajar ekstrakulikuler Tari di sekolah mereka.
Suatu hari Bu Ning memberi tugas liburan sekolah kepada kami. Kami di suruh membuat kelompok yang masing masing kelompok terdiri dari 3 orang siswa. Tugas yang di berikan Bu Ning adalah mencari kebudayaan asli Magelang yang sudah mulai luntur atau yang masih tetap di lestarikan. Tetapi tugas ini tidak boleh di cari melalui internet, hmm…. seperti di suruh membuat laporan kegiatan.
Pukul 12.00 WIB :“teeeerrrttttt…….. teeeerrrttttt…… teeeerrrrttttt……..” mendengar suara yang paling di tunggu-tunggu siswa sekolah, yaitu Bell yang memulai liburan kita mulai saat itu. kami langsung bergegas pulang, tidak lupa kami menyempatkan diri untuk solat dzuhur berjama’ah di masjid At-Taqorub SMPN 7 Magelang. Setelah selesai solat kami bertiga berjalan pulang, kebetulan kami bertiga satu arah pulangnya.
Di perjalanan kami membahas masalah tugas yang di berikan Bu Ning.
Pie nek dewe garap tugase sing dikeki Bu Ning, Dit. Sisan nggo ngisi libur ? “ tanya restu.
Hus… kowe ki ngawur wae, Adit opo ngerti boso jowo ? nganggo boso Indonesia wae !?” bentak Citra.
Oh iyo… . Dit, bagaimana kalo kita mengerjakan tugas dari Bu Ning, sambil mengisi liburan ? “ ulang Restu.
Aku sih setuju-setuju aja, Res. Tapi apakah Citra setuju ?", “Dan kapan kita akan mengerjakan tugas itu ? “ tambahku.
Aku setuju, Dit.”
Bagaimana kalo kita kerjakan besok Minggu ? dirumahku jam 09.00 pagi ? “ Tanya Restu.
Oke, aku akan kerumahmu besok.” Jawabku dan Citra.
Setelah bercakap-cakap akhirnya kami putuskan untuk mengerjakannya Hari Minggu (hari pertama liburan Semester 1 ), sambil mengisi hari libur kita. Kami merencanakan akan mengerjakan di rumah Restu di Mertoyudan.
Sampai dirumah pada pukul 14.00, aku langsung duduk di kursi ternyamanku, yakni kursi di depan komputer. Ku hidupkan komputer dan ku tancapkan modem ke CPU. Langsung aku Facebookan. Maklum saja karena besok sudah mulai libur. Pada pukul 15.00 , ku matikan sejenak komputerku dan aku langsung ambil air wudhu, kemudian bergegas solat. Setelah solat aku pun mengambil handuk dan langsung mandi. Setelah selesai solat dan mandi, kira-kira pukul 16.00 aku ambil makan siangku, yang seharusnya sudah tdi aku makan. Dan aku berkata pada ibuku.
tolong besuk bangunkan aku pukul 04.30 ya bu, karena setelah solat aku mau mandi dan menyiapkan barang-barang yang akan ku bawa untuk kerja kelompok di rumah Restu. “ pintaku.
Baiklah, tapi kalo aku baangunkan kamu gak boleh marah ya ? “ jawab ibu sambil sedikit meledekku.
iyalah bu, klo aku marah siram saja aku dengan air bak mandi, hahaha “
Keesokan harinya aku bangun sesuai rencana. Dan langsung menelpon Citra, hanya mengingatkan klo kerja kelompok. Aku pun berangkat dari rumah pukul 08.30, di hantarkan ibuku menggunakan motor bersejarahku.
Sesampainya di rumah Restu di Desa Prajenan, Mertoyudan, Magelang. Kami berencana untuk mencari tahu kebudayaan apa saja yang ada di daerah dekat desa rumah Restu tinggal. Pada saat kita asyik berfikir, kami mendengar alunan musik-musik tradisional, dan “ Aki sutopo… ndue ilmu kang utomo…. Nganti tekan mbesok kapan….“
Mendengar suara itu rasa penasaranku pun muncul.
restu, apa kamu dengar, seprti ada musik-musik yang di mainkan “ tanyaku.
ooh… itu, itu keseninan tradisional Magelang, namanya topeng ireng. “ jelasnya.
Topeng ireng ?” ,
ya “ ,
rasanya ku pernah dengar, kalo tidak salah itu seperti tarian-tarian adat, ya ? “ . “kurang lebih seperti itu”
ikhsantikossdd@gmail.com
Kami pun akhirnya teringat kalo topeng ireng ini juga bisa menjadi bahan tugas kita. Akhirnya kami menelusuri jalan-jalan desa Restu yang terletak di Prajenan, Mertoyudan, Magelang ini, kami mencari dari mana asal bunyi itu. Di perjalanan mencari Restu menjelaskan kepada Citra dan Aku tentang topeng ireng. Maklum aku orang Bandung, dan Citra orang Magelang yang tinggal di kota, baru-baru ini. Sebenarnya Citra berasal dari Makasar.
Banyak masyarakat yang hanya mengetahui kesenian Topeng Ireng hanya sebagai sebuah tontonan seni tradisi semata. Namun di balik itu, kesenian rakyat asal Magelang ini terkandung sebuah filosofi di dalamnya.” Jelas Restu.
Ooooo……”,
nama Topeng Ireng berasal dari kata Toto Lempeng Irama Kenceng yang menata hidup secara baik dengan irama yang dinamis.“
Oo.. gitu to, Res ! “ tanggapku.
Iya, aku kan ikut sanggar seni Permata Rimba, sanggar ini termaksud sanggar yang hebat lhoo…. “ sahut Restu.
Akirnya kami menemukan sumber bunyi musik-musik itu. Kami tiba di satu halaman sanggar bernama “ Sanggar Budaya Jawa “. Di sana kami bertemu dengan Pak Suwarno sesepuh kelompok Topeng Ireng itu, tentu saja bukan yang Ter-ireng, hahaha… di sana kami menanyakan banyak hal, mulai dari sejarahnya.
Pak, sebenarnya bagaimana asal topeng ireng ? “ tanyaku.
Pada awalnya ada yang disebut topeng kawedar yang diciptakan oleh lurah Desa Tukson, seni topeng kawedar merupakan seni rakyat yang menggabungkan pencak Jawa dengan lagu-lagu salawat sebagai sarana siar Islam. Kini seni topeng ireng belum mati, masih terus berkembang hingga keluar daerah termasuk di wilayah Kulonprogo, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Biasanya tanggapan marak mulai April, Agustus, dan hari besar Jawa seperti bulan Rejeb, Syawal, maupun Maulud, hingga pada perayaan hari besar keagamaanseperti Idul Fitri, upacara adat merti dusun, sampai sekadar syukuran khitan.”
"Meskipun seni ini dimaksudkan untuk siar Islam, ternyata kita juga mendapat tanggapan dari warga Kristen, Katolik, Hindu, dan Buddha. Jadi seni ini diminati semua kalangan” tambahnya.
Aku herang mengapa di zaman yang modern ini masih banyak juga anak-anak, pemuda-pemuda yang belajar tarian ini. Malahan tarian ini seperti hal yang hebat bagi mereka. Kata Restu
kita sebagai anak bangsa, tidak boleh terus menghilangkan budaya bangsa dit, sif, kita harus terus melestarikannya, agar tarian ini dan budaya-budaya lainnya tidak terus luntur, apalagi punah karena terdorong oleh budaya-budaya asing yang masuk ke Indonesia”
kalo kamu mau kita bisa belajar tarian ini bersama-sama, dan kamu juga gak usah malu deh Dit,Cit. Karena ini termasuk Kebudayaan asli kita. “. Ungkap Restu.
wah jelas saja aku mau Res “
Tidak menyianyiakan waktu, kami pun meminta pak Suwarno untuk mengajari kami cara menari topeng ireng. Setelah belajar sedikit tentang tarian topeng ireng kami pulang kerumah Restu dengan membawa pulang banyak ilmu. Akhirnya kami tahu, apa yang harus kami laporkan kepada Bu Ning.
Setelah libur panjang semester 1 usai. Kami sudah mulai masuk sekolah dan melaksanakan KBM seperti biasa. Dan pada pelajara seni budaya, kami melaporkan apa yang kami ketahui tentang topeng ireng. Dan kami dapat menyimpulkan. Bahwa topeng ireng bukan hanya kesenian jawa biasa, dalam setiap tarianya mengandung sejarah. Dan tanpa kami ketahui juga, kalau semakin hari semakin banya pemuda-pemuda yang ingin melestarikan tarian topeng ireng ini. Kami bangga menjadi anak Indonesia yang memiliki beragam seni budaya.

DILARANG KERAS COPY PASTE !! ARTIKEL INI DI LINDUNGI HAK CIPTA

bagaimana ???

0 komentar:

Poskan Komentar

bagaimana menurut anda ?

Add your Comment

Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945

Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945

Peta Jalur Perdagangan Dunia

Peta Jalur Perdagangan Dunia

Laman

Newsreel

Loading...